Penjara ini tetap memeluk tubuhku , walau isi kepalaku liar berkelana mencari kehangatan, menemani sekujur harapku dalam menata jiwa yang semakin rapuh tergerus pekat kegelisahan yang menghakimi bhatinku tiada jeda.
Aku meronta dalam kesunyatan, membakar tiap jengkal mimpi yang terkebiri emosi, mengasah bilah frustasi. Aku berjudi dengan matahari, mempertaruhkan tiap helaan nafas untuk sebuah kesejatian yang entah kurengkuh …
Bila kaki akan melangkah, sedang ruas tubuhku masih kau jilati …